Desa di Nias Ini Mau Jadi Warisan Dunia UNESCO, Namanya Saja Banyak yang Masih Gagap

Desa di Nias Ini Mau Jadi Warisan Dunia UNESCO, Namanya Saja Banyak yang Masih Gagap

Coba sebut nama Desa Bawomataluo di tongkronganmu saat ini. Reaksi pertama teman-temanmu kemungkinan besar hanya hening. Sebagian orang mungkin mengira nama itu adalah jenis makanan tradisional. Sebagian lagi langsung membuka aplikasi peta daring di ponsel, lalu terkejut saat mengetahui lokasinya berada di pelosok Nias Selatan, Sumatera Utara.

Padahal, nama desa bawomataluo nias di kancah internasional sudah tercatat sangat lama. Perkampungan adat ini berstatus cagar budaya nasional dan masuk ke dalam daftar tentatif Warisan Dunia UNESCO sejak 6 Oktober 2009.

Lalu, mengapa namanya baru ramai dibicarakan belakangan ini? Jawabannya klasik: agenda kementerian baru saja mampir ke sana. Pada 27 Juli 2026 kemarin, Menteri Kebudayaan Fadli Zon hadir membuka ajang Bawomataluo Expo IV dan menyatakan komitmen pemerintah pusat untuk mendorong pengusulan desa ini ke UNESCO. Kepala Desa Teruna Wau bahkan sempat menargetkan kelengkapan berkas usulan sekitar 15 September 2026.

Tentu saja langkah ini masih berupa penyusunan dokumen usulan (dossier) dan penilaian ketat dari dewan internasional, bukan penetapan gelar instan besok pagi. Namun sebelum obrolan ini kembali tenggelam oleh topik viral lainnya, mari kita kenali pesonanya secara jernih.

Permukiman Nyata di Atas Bukit, Bukan Cuma Sekadar Set Foto

Bawomataluo memiliki arti Bukit Matahari. Permukiman kuno ini berdiri kokoh di punggungan bukit dengan ketinggian sekitar 270 meter di atas permukaan laut, berjarak sekitar empat kilometer dari garis pantai selatan.

Untuk masuk ke desa, kamu harus menaiki puluhan anak tangga batu alam yang terjal. Begitu tiba di pelataran utama, kamu akan disambut jalanan desa berlapis batu padat yang tersusun rapi. Puluhan rumah adat kayu tradisional, atau omo hada, berdiri saling berhadapan di sepanjang koridor desa.

Di ujung barat daya permukiman, berdiri rumah raja atau rumah adat bangsawan yang berukuran paling besar bernama omo sebua. Bangunan panggung kayu raksasa ini menjadi pusat kepemimpinan adat sejak era lampau. Berdasarkan catatan kepala desa pada Juli 2026 kemarin, perkampungan ini masih merawat sekitar 163 unit rumah adat asli.

Tempat ini bukan sekadar museum mati yang digembok saat sore hari tiba. Ratusan warga lokal masih mendiami rumah-rumah panggung tersebut dan menjalani keseharian mereka secara wajar.

Selain itu, catatan cagar budaya mencatat pembagian tiga tingkatan ruang vertikal pada setiap rumah. Kolong bawah tiang melambangkan dunia bawah, lantai hunian utama menjadi cerminan dunia tengah tempat manusia beraktivitas, sedangkan ruang loteng tinggi menggambarkan dunia atas tempat para leluhur bersemayam.

Tradisi Fahombo

Kamu tentu sudah akrab dengan atraksi tradisi lompat batu khas Nias. Masyarakat setempat menamainya fahombo atau hombo batu.

Para pemuda desa melompati bangunan tumpukan batu berbentuk piramida datar dengan ketinggian sekitar 2 hingga 2,15 meter tanpa menyentuh permukaannya. Pada masa lalu, kegiatan ini adalah sarana latihan fisik para prajurit untuk melompati pagar benteng pertahanan desa musuh. Pemuda yang berhasil melewatinya dianggap telah matang secara fisik serta siap memikul tanggung jawab kedewasaan dan pernikahan.

Mendarat dengan sudut kaki yang salah bisa berakibat cedera serius. Oleh sebab itu, atraksi ini membutuhkan konsentrasi mutlak dan ketangkasan tinggi.

Saat ini, tradisi sakral tersebut berjalan beriringan dengan kegiatan pariwisata. Warga desa kerap menggelar atraksi lompat batu jika ada rombongan tamu berkunjung. Pakaian adat lengkap disiapkan, izin tetua adat dimintakan, lalu lompatan terjadi di depan bidikan kamera pelancong. Realitas ini adalah potret jujur bagaimana sebuah desa adat bernegosiasi antara menjaga kemurnian tradisi dan menyambung perputaran ekonomi lokal.

Alasan Mengapa Namanya Kerap Kalah Populer

Ketenaran desa adat di Bali atau perkampungan Tana Toraja sudah lama melekat di kepala pelancong Nusantara. Sebaliknya, nama Bawomataluo masih terdengar asing layaknya hafalan geografi yang sulit diucapkan.

Salah satu tantangan terbesarnya ada di jalur transportasi. Perjalanan darat dari Bandara Binaka di Kota Gunungsitoli menuju Nias Selatan menelan waktu sekitar dua setengah jam berkendara. Durasi perjalanan yang panjang ini kerap membuat orang menyerah sebelum sempat memesan tiket pesawat.

Di samping itu, status daftar tentatif UNESCO bukanlah trofi yang bisa diraih dalam semalam. Masih ada antrean panjang, verifikasi lapangan, dan kajian akademis bertahun-tahun. Rumah panggung yang masih dihuni warga setiap hari sejatinya tidak membutuhkan antrean massal layaknya pengunjung pusat perbelanjaan.

Jika suatu hari kamu singgah ke Sumatera Utara dan menyeberang ke Pulau Nias, datanglah ke Bawomataluo untuk menghargai sebuah kampung adat yang masih bernapas, bukan semata-mata memburu latar belakang swafoto.

Eksplorasi Keindahan Budaya Nusantara Bersama Indonesia Holiday

Mengeksplorasi kekayaan budaya Nusantara yang autentik membutuhkan kesabaran dan apresiasi rasa yang tulus. Menikmati sejarah peradaban masa lampau memberi warna liburan yang jauh lebih bermakna dibanding sekadar singgah di kafe perkotaan.

Jika kamu ingin menikmati perjalanan wisata yang nyaman dan tertata rapi tanpa repot merancang jadwal sendiri, percayakan rencana liburanmu kepada Indonesia Holiday.

Kami menyediakan ragam pilihan paket tur domestik terpercaya dengan akomodasi nyaman dan jadwal fleksibel. Kamu bisa menjelajahi keindahan pegunungan dan pesona budaya di Jawa Timur, petualangan alam di Jawa Tengah, hingga eksotisme bahari di kawasan Nusa Tenggara secara tenang.

Segera kunjungi situs resmi Indonesia Holiday untuk menemukan inspirasi perjalanan terbaikmu bersama teman dan keluarga!

FAQ Seputar Desa Bawomataluo Nias

Di mana lokasi administratif Desa Bawomataluo?

Desa Bawomataluo terletak di Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Letaknya berada di atas perbukitan berketinggian sekitar 270 meter di atas permukaan laut dan berjarak sekitar empat kilometer dari bibir pantai.

Apa daya tarik utama dari arsitektur rumah adat di desa ini?

Daya tarik utamanya adalah deretan rumah kayu omo hada yang memiliki struktur pasak fleksibel tahan guncangan gempa, serta keberadaan omo sebua, yaitu rumah panggung adat bangsawan berukuran besar yang ditopang oleh tiang kayu gelondongan masif.

Berapa ukuran batu yang digunakan dalam atraksi tradisi fahombo?

Media yang dilompati pemuda desa adalah bangunan tumpukan batu berbentuk piramida terpancung datar dengan ketinggian sekitar 2 hingga 2,15 meter.

Bagaimana rute perjalanan darat menuju lokasi desa ini?

Pelancong dari luar pulau mendarat di Bandara Binaka Gunungsitoli, kemudian melanjutkan perjalanan darat selama kurang lebih dua setengah jam menuju Nias Selatan atau Kota Teluk Dalam, sebelum bergerak naik menuju Desa Bawomataluo di Kecamatan Fanayama.

Leave a Comment