Menghadiri Seren Taun Kasepuhan Cisungsang di Lebak: Ritus Syukur Panen Padi dan Penjaga Pangan Adat
Ketika pembicaraan tentang tradisi panen padi bergulir di media sosial, perhatian publik hampir selalu tertuju ke pedesaan Jawa Tengah, Yogyakarta, atau Bali. Sudut barat Pulau Jawa kerap luput dari linimasa wisata budaya arus utama.
Padahal, di balik perbukitan Kabupaten Lebak, Banten, masyarakat adat menjaga siklus agraris yang sama tuanya. Masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang kembali menggelar perhelatan tahunan Seren Taun yang tercatat dalam kalender pariwisata pada 29 September hingga 6 Oktober 2026.
Rangkaian acara ini bukan tontonan instan untuk berburu foto semata. Seren Taun merupakan wujud penyerahan hasil panen tahun lalu serta ungkapan doa menyambut musim tanam berikutnya. Bagi masyarakat adat setempat, padi bukan sekadar komoditas dagang, melainkan sumber kehidupan yang dirawat dengan aturan leluhur.

Filosofi Pangan dan Tradisi Lumbung Leuit
Kasepuhan Cisungsang adalah salah satu kasepuhan yang bernaung di bawah Kesatuan Adat Banten Kidul. Secara administratif, wilayah adat ini berada di Desa Cisungsang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak. Wilayahnya berbatasan langsung dengan rimbunnya kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.
Sebutan hidden gem terasa kurang tepat bagi masyarakat adat yang telah berdaulat mengelola wilayahnya selama ratusan tahun. Di Cisungsang, pola tanam padi berpedoman pada siklus adat setempat.
Secara tradisi, hasil panen padi utama diprioritaskan untuk mengisi lumbung kayu yang disebut leuit. Beras dari lumbung ini dipersiapkan untuk konsumsi keluarga, cadangan masa paceklik, dan kebutuhan upacara adat. Meski dalam perkembangannya sebagian warga dapat menjual sebagian hasil panen tertentu untuk kebutuhan tunai keluarga, prinsip menjaga isi leuit tetap menjadi fondasi utama ketahanan pangan warga.
Gambaran Umum Rangkaian Acara Tradisi
Jadwal resmi Seren Taun tercatat pada 29 September hingga 6 Oktober 2026. Jadwal rinci harian biasanya diumumkan langsung oleh pemangku adat menjelang hari pelaksanaan.
Secara umum, rangkaian tradisi yang biasa disaksikan pengunjung meliputi:
- Sowan dan Doa di Imah Gede: Para pemangku adat memanjatkan doa bersama di Imah Gede (kediaman ketua adat) memohon kelancaran dan keselamatan warga kepada Sang Pencipta.
- Pergelaran Kesenian Tradisi: Pelataran kampung diramaikan oleh pertunjukan seni khas Banten Kidul, seperti tabuhan ritmis dogdog lojor, atraksi pencak silat, dan tari jaipong.
- Arak-arakan Rengkong dan Gondang: Warga bergotong royong membawa hasil bumi ke tengah desa. Kaum pria memikul ikatan batang padi menggunakan bambu rengkong yang menghasilkan suara derit berirama, sementara kaum perempuan memainkan irama lesung (ngagondang).
- Puncak Ritual Ngampihkeun Pare: Puncak upacara biasanya berlangsung menjelang akhir periode perayaan. Abah selaku pimpinan adat memimpin prosesi ngampihkeun pare ka leuit, yakni memasukkan ikatan padi pilihan ke lumbung utama sebagai penanda tutup tahun panen. Pastikan memeriksa kepastian hari dan jam prosesi puncak ini kepada panitia adat di lokasi.

Warga adat Kasepuhan Cisungsang mengarak ikatan padi menggunakan pikulan bambu rengkong dalam prosesi menuju lumbung utama.
Siapa yang Boleh Hadir dan Adab Bertamu
Kasepuhan Cisungsang terbuka bagi masyarakat luar yang ingin belajar menghargai adat. Siapa pun dipersilakan datang menyaksikan jalannya acara. Namun demikian, pengunjung wajib memahami adab bertamu di ruang hidup masyarakat adat:
- Kesopanan Berpakaian: Kenakan pakaian yang rapi dan tertutup. Hindari celana pendek atau pakaian terbuka. Jika kamu berniat sowan ke Imah Gede, mengenakan baju kampret atau pangsi hitam serta ikat kepala Sunda (iket) sangat dianjurkan sebagai wujud penghormatan kepada para tetua.
- Hormati Batas Ruang Sakral: Jangan sembarangan memasuki ruangan pribadi di Imah Gede tanpa seizin tuan rumah. Patuhi tanda atau arahan panitia di sekitar lokasi ritual.
- Etika terhadap Padi: Masyarakat adat sangat memuliakan padi. Hindari melangkahi ikatan padi yang diletakkan di tanah, serta jangan menginjak hamparan gabah yang sedang dijemur warga.
- Tertib saat Dokumentasi: Mengabadikan momen lewat foto diperbolehkan di area umum. Akan tetapi, jangan sampai menghalangi jalannya rombongan sesepuh adat saat memimpin prosesi doa.
Akses Menuju Cisungsang di Wilayah Selatan Lebak
Perjalanan menuju Desa Cisungsang memerlukan persiapan kendaraan yang matang. Dari arah Jakarta atau Kota Serang, perjalanan darat memakan waktu sekitar lima hingga enam jam berkendara.
Jalur utama yang umum dilalui melintasi rute Rangkasbitung menuju Bayah, lalu berbelok mendaki ke arah Kecamatan Cibeber. Rute alternatif lainnya dapat ditempuh dari arah Sukabumi melalui Pelabuhan Ratu dan Cisolok.
Jalur pegunungan di kawasan Banten Selatan ini memiliki kontur jalan berkelok dan tanjakan yang cukup curam di beberapa titik. Pastikan sistem pengereman kendaraan dalam kondisi prima sebelum berangkat.
Catatan Perjalanan Budaya
Rangkaian Seren Taun Kasepuhan Cisungsang merupakan agenda adat mandiri yang terbuka untuk umum tanpa tiket masuk. Pengunjung umumnya hanya membayar biaya parkir kendaraan yang dikelola secara swadaya oleh pemuda desa.
Sebagai bentuk keterbukaan informasi, Indonesia Holiday saat ini tidak menyediakan paket tur khusus menuju perhelatan Seren Taun Kasepuhan Cisungsang.
Bagi kamu yang berencana merancang agenda perjalanan ke destinasi wisata budaya lainnya di Jawa Barat atau Banten, silakan memeriksa katalog program yang aktif di situs resmi Indonesia Holiday. Pastikan kamu hanya melakukan transaksi untuk program perjalanan yang terdaftar resmi di sistem.
FAQ Seputar Seren Taun Kasepuhan Cisungsang
Apakah masyarakat umum boleh hadir menonton acara ini?
Boleh. Masyarakat umum dipersilakan menyaksikan prosesi Seren Taun, selama bersedia menaati tata krama, berpakaian sopan, dan menjaga ketertiban di lingkungan adat.
Kapan puncak prosesi Seren Taun berlangsung?
Rangkaian acara berlangsung antara 29 September hingga 6 Oktober. Puncak ritual ngampihkeun pare ka leuit biasanya digelar menjelang akhir periode tersebut. Pengunjung disarankan mengonfirmasi kepastian hari dan jamnya langsung kepada panitia adat setempat.
Apakah pengunjung dikenakan tiket masuk?
Tidak ada tiket masuk resmi untuk menyaksikan upacara adat di desa. Pengunjung hanya perlu membayar retribusi parkir kendaraan yang dikelola warga di sekitar permukiman.
Di mana wisatawan bisa menginap saat berkunjung ke Cisungsang?
Desa Cisungsang tidak memiliki fasilitas hotel berbintang. Pengunjung biasanya menginap di homestay rumah warga lokal atau memesan penginapan di kawasan pesisir terdekat seperti Bayah dan Sawarna.





