Musim Berlayar di Lamalera: Laut Sawu, Tombak Bambu, dan Paledang yang Turun Setahun Sekali

Di pesisir selatan Pulau Lembata, rumah-rumah panggung berdiri menempel di lereng batu cadas yang menghadap langsung ke perairan Laut Sawu. Desa Lamalera dihuni sekitar 1.600 jiwa. Sebagian besar warganya memeluk iman Katolik dan menggantungkan dapur mereka pada pasang surut air laut.

Nama kampung ini kerap tertukar dengan Lamakera di Pulau Solor yang bertetangga pulau. Masyarakat Lamakera lebih dikenal luas dengan tradisi perburuan pari manta, sementara Lamalera memusatkan hidupnya pada lintasan paus sperma yang bermigrasi melintasi selat sempit Nusa Tenggara Timur.

Hubungan warga Lamalera dengan laut bukan urusan rekreasi. Siklus hidup di desa ini bergerak mengikuti kalender musim laut yang hanya datang setahun sekali.

Perahu kayu paledang bersandar di pesisir Desa Lamalera, menanti waktu melaut musiman yang telah diwariskan lintas generasi.

Ritual Tobu Neme Fate dan Misa Pembuka Musim Leva

Setiap tahun, perburuan mamalia laut hanya diizinkan berlangsung dalam rentang waktu tertentu yang disebut Leva Nuang atau Lefa Nuang. Musim ini dibuka pada awal Mei dan ditutup sekitar Oktober, ketika angin muson mulai berganti arah dan ombak selatan kian beringas.

Menjelang perahu diturunkan, desa menggelar serangkaian ritus adat dan keagamaan di pengujung April. Para tetua adat berkumpul menggelar upacara Tobu Neme Fate pada 29 April untuk mendamaikan perselisihan antarwarga dan memohon restu leluhur. Keesokan harinya, seluruh warga menghadiri misa arwah di tepi pantai guna mendoakan para pemburu yang gugur ditelan ombak.

Baru pada 1 Mei, melalui pemberkatan misa pembuka, perahu-perahu kayu diizinkan berlayar ke laut lepas. Di luar kalender musim tersebut, perahu ditarik ke darat dan pantai kembali lengang.

Di Atas Paledang: Dayung, Bambu, dan Naluri Lamafa

Perahu yang digunakan masyarakat Lamalera dibuat dari susunan papan kayu tanpa paku besi, disambung menggunakan pasak kayu dan serat pohon. Perahu layar tradisional ini dikenal dengan sebutan paledang atau peledang.

Paledang berlayar mengandalkan tenaga enam hingga sepuluh pendayung tanpa bantuan mesin tempel. Di ujung haluan kayu, berdiri seorang juru tikam tombak yang bergelar lamafa. Senjata yang digenggamnya adalah sebatang bambu panjang berkepala besi tempa (tempuling). Ketika sirip paus sperma (Physeter macrocephalus) terlihat memecah buih ombak, para pendayung memacu perahu sekuat tenaga, lalu lamafa melompat ke udara, menghunjamkan mata tombak bersama berat tubuhnya sendiri ke punggung buruan.

Tradisi lisan masyarakat setempat memegang sejumlah pantangan adat. Berdasarkan tuturan para tetua desa, paus biru (Balaenoptera musculus) pantang diburu karena dihormati sebagai penjaga laut. Warga juga menjaga kesepakatan adat untuk tidak menombak anak paus serta betina yang tampak sedang bunting.

Hasil tangkapan melaut tidak selalu berbuah manis. Menurut catatan Kepala Desa Lamalera B, Matheus Gilo Bataona, pada musim 2025 desa hanya mendaratkan tiga ekor paus sperma. Hingga pertengahan 2026, nelayan baru berhasil membawa pulang satu ekor. Menurunnya jumlah perahu yang turun melaut belakangan ini juga dipengaruhi oleh banyaknya generasi muda desa yang merantau ke luar pulau untuk menempuh pendidikan atau bekerja.

permukiman Desa Lamalera yang bertingkat menghadap perairan terbuka Laut Sawu

Dari Garis Pantai ke Pasar Barter Wulandoni

Paus yang berhasil ditarik ke bibir pantai dipotong bersama-sama. Jatah daging dibagi secara tertib kepada juru tombak, juru mudi, dan pendayung sesuai peran masing-masing dalam pelayaran.

Daging paus diiris memanjang, dilumuri garam, lalu dijemur di atas bilah-bilah bambu hingga mengering agar awet disimpan berbulan-bulan. Norma adat yang dijaga warga melarang daging buruan diperjualbelikan secara tunai sebagai komoditas komersial.

Setiap hari Sabtu, para perempuan Lamalera menempuh jalan darat berliku menuju Pasar Barter Wulandoni. Di pasar tradisional ini, potongan daging paus segar ditukar dengan sisir pisang, sementara daging kering ditukar dengan singkong, ubi, atau jagung yang dibawa oleh warga petani dari desa-desa pegunungan Lembata. Sistem pertukaran pangan purba ini menjadi penyambung kebutuhan karbohidrat bagi warga pesisir yang tanahnya tandus berbatu.

Catatan Perjalanan Menuju Pulau Lembata

Perjalanan darat dan laut menuju Lamalera menuntut fisik yang tangguh. Wisatawan biasanya menempuh penerbangan menuju Kupang atau Maumere, menyeberang lewat pelabuhan Larantuka di Flores Timur, lalu menaiki kapal feri menuju Kota Lewoleba di Lembata. Dari Lewoleba, perjalanan berlanjut dengan mobil sewaan menyusuri jalan aspal sempit berbukit menuju pesisir Wulandoni dan Lamalera.

Situasi keamanan kawasan di Lembata juga dipengaruhi oleh aktivitas alam. Pada pertengahan September 2026, aktivitas vulkanik Gunung Ile Lewotolok berada pada status Level II (Waspada). Melalui surat edaran pada 24 September 2026, pemerintah kabupaten setempat membatasi kegiatan adat yang memicu kerumunan serta aktivitas wisata di zona bahaya radius dua hingga tiga kilometer dari kawah aktif, terutama di kawasan lereng Ile Ape. Walaupun Lamalera berada di pesisir selatan yang jauh dari pusat erupsi, setiap pelancong perlu memastikan pembaruan situasi setempat sebelum menyeberang ke pulau ini.

Perlu dipahami bahwa perahu paledang bukan perahu wisata komersial. Warga melaut murni untuk menyambung hidup keluarga. Naik ke atas perahu hanya bisa terjadi atas izin khusus warga desa dan membawa risiko keselamatan yang sangat tinggi di tengah hempasan ombak Samudra Hindia.

Ragam Jelajah Bahari Nusantara Bersama Indonesia Holiday

Kisah dari pesisir Lamalera memperlihatkan betapa kayanya relasi manusia dengan alam di kepulauan Indonesia timur.

Indonesia Holiday mengelola beragam program perjalanan wisata di Nusa Tenggara Timur dengan menitikberatkan pada rute bahari terpadu di kawasan Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo. Kami tidak mengoperasikan tur perburuan paus ke Lamalera demi menghormati batasan adat serta keselamatan pelayaran.

Bagi pelancong yang ingin merasakan keindahan bahari Flores, rute berlayar (liveaboard) pulau-pulau Komodo, snorkeling di perairan jernih, dan menikmati lanskap perbukitan savana barat Flores dapat dinikmati melalui paket resmi kami yang terkelola rapi.

Katalog program liburan Nusantara lainnya dapat kamu pelajari di situs resmi Paket Wisata Indonesia Holiday dan jadwal rombongan di menu Open Trip Indonesia Holiday.

FAQ Seputar Tradisi Perburuan Paus Lamalera

Di mana letak Desa Lamalera?

Desa Lamalera terletak di Kecamatan Wulandoni, pesisir selatan Pulau Lembata, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Kapan musim perburuan paus di Lamalera berlangsung?

Musim berburu (Leva Nuang) berlangsung setahun sekali, dimulai pada awal Mei setelah misa pembuka dan ditutup sekitar bulan Oktober.

Leave a Comment