Malam Ela-Ela di Ternate: Nyala Obor Bambu pada 27 Ramadan

Dalam bahasa masyarakat Ternate, kata ela-ela merujuk pada obor penerang. Sebutan ini melekat erat pada malam ke-27 Ramadan, saat warga menyalakan api di pekarangan rumah untuk menyambut malam Lailatul Qadar.

Cahaya api yang berderet di sepanjang jalan kampung menghadirkan suasana hening yang sarat makna spiritual. Tradisi ini berakar kuat di lingkungan Kesultanan Ternate dan masjid-masjid pusaka kota pulau tersebut.

Ritus ini diwariskan lintas generasi sebagai sarana mempererat persaudaraan. Berdasarkan keterangan perangkat kedaton, malam 27 Ramadan membawa pesan silaturahmi yang luas, termasuk kehadiran warga Kristen dari Tabanga yang tercatat pernah ikut dalam rangkaian tersebut.

Pada 17 Maret 2026, Kantor Wilayah Kementerian Hukum Maluku Utara mencatatkan tradisi ini ke dalam pangkalan data kekayaan intelektual komunal pada kategori ekspresi budaya tradisional. Pencatatan resmi ini menjadi langkah perlindungan hukum atas warisan budaya lokal agar kelestariannya tetap terjaga.

Deretan obor bambu menerangi halaman rumah warga di Ternate, dinyalakan serempak selepas salat Isya dan Tarawih pada malam ke-27 Ramadan.

Wangi Damar Halmahera dan Lantunan Doa di Pekarangan

Persiapan menyambut malam ke-27 Ramadan dimulai oleh para keluarga sejak petang hari. Warga menyiapkan bilah-bilah bambu yang dipotong rapi atau memanfaatkan botol kaca bekas yang diisi minyak tanah dan diberi sumbu kain. Rata-rata setiap rumah menyalakan tiga hingga empat batang obor di dekat pagar atau jalan masuk.

Sebelum api disulut, suasana di dalam rumah diisi dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, khususnya Surah Al-Qadr, yang dilanjutkan dengan panjatan doa keselamatan bersama sanak keluarga.

Selain obor bambu, sebagian warga juga membakar damar dari Halmahera, sehingga aroma resin tercium di lorong kampung sampai pagi.

Masjid Sigi Lamo (Masjid Sultan Ternate), pusat peribadatan bersejarah yang dituju rombongan kesultanan dalam rangkaian malam Ela-Ela.

Prosesi dari Kedaton Menuju Masjid Sigi Lamo

Puncak keramaian berlangsung selepas pelaksanaan salat Tarawih berjamaah. Di sejumlah kelurahan, warga menggelar pawai obor menyusuri lorong kampung setelah ceramah.

Di kawasan Kedaton Kesultanan Ternate, rangkaian acara dijalankan mengikuti tata cara adat yang khidmat. Rombongan perangkat adat bertolak dari istana menuju Masjid Sigi Lamo (Masjid Sultan) untuk menunaikan doa bersama. Nyala lampu damar dan obor mengawal langkah para tetua adat di sepanjang jalur kesultanan.

Waktu pelaksanaan tradisi ini sepenuhnya mengacu pada perhitungan kalender Hijriah. Kepastian tanggal masehi malam ke-27 Ramadan baru dapat dipastikan setelah pemerintah menetapkan awal bulan puasa melalui sidang isbat resmi.

Menjaga Kesantunan Saat Menyaksikan Tradisi

Malam Ela-Ela merupakan agenda peribadatan keagamaan dan tatanan adat kampung, bukan pertunjukan pentas seni komersial.

Bagi pelancong yang kebetulan sedang berada di Pulau Ternate pada pengujung Ramadan, ada beberapa etika dasar yang patut diperhatikan:

  • Minta Izin Sebelum Memotret: Pekarangan rumah merupakan ruang privat keluarga. Mintalah izin dengan santun kepada tuan rumah sebelum mengarahkan kamera ke arah deretan obor atau pintu rumah.
  • Jaga Ketertiban Ibadah: Jangan melintasi shaf jemaah atau bersuara keras saat warga sedang khusyuk membaca doa dan melaksanakan ibadah malam.
  • Perhatikan Keamanan Api: Berhati-hatilah saat melangkah di tepi jalan agar pakaian tidak mengenai api obor bambu yang sedang menyala.
  • Posisikan Diri Sebagai Pengamat: Saksikan arak-arakan warga dari trotoar atau pinggir jalan tanpa memotong barisan prosesi adat.

Ragam Perjalanan Budaya Bersama Indonesia Holiday

Menyaksikan kekayaan adat Nusantara menghadirkan pengalaman batin yang mendalam tentang keragaman tradisi Indonesia.

Saat ini Indonesia Holiday memusatkan layanan perjalanan wisata pada rute-rute darat dan kepulauan yang tercantum aktif di katalog resmi kami. Kami tidak menyediakan paket tur komersial untuk malam Ela-Ela di Ternate demi menjaga kemurnian ibadah masyarakat setempat serta memastikan jadwal perjalanan wisatawan tetap terukur secara operasional.

Bagi kamu yang merencanakan liburan penjelajahan alam, situs sejarah, dan kebudayaan daerah di berbagai penjuru Nusantara, kami menyediakan beragam paket perjalanan wisata keluarga maupun rombongan instansi dengan rute yang tersusun rapi.

Daftar program perjalanan domestik yang berstatus aktif dapat kamu pelajari langsung melalui situs resmi Paket Wisata Indonesia Holiday. Setiap transaksi pembayaran hanya diproses untuk jadwal tur dan rute perjalanan yang tercantum resmi pada surat konfirmasi pemesanan.

FAQ Seputar Tradisi Ela-Ela Ternate

Apa arti dari kata Ela-Ela dalam bahasa Ternate?

Kata ela-ela berarti obor. Penamaan ini disematkan pada tradisi menyalakan obor bambu dan pelita minyak tanah oleh masyarakat Ternate pada malam ke-27 Ramadan.

Kapan tradisi Ela-Ela dilaksanakan setiap tahunnya?

Tradisi ini berlangsung setahun sekali pada malam ke-27 Ramadan selepas waktu salat Isya dan Tarawih. Tanggal masehi perayaannya mengikuti penetapan kalender Hijriah dari sidang isbat pemerintah.

Apakah tradisi ini berstatus sebagai warisan dunia UNESCO?

Tradisi Ela-Ela tercatat resmi di Kementerian Hukum Republik Indonesia sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) dalam kategori Ekspresi Budaya Tradisional, bukan sebagai warisan budaya takbenda dunia UNESCO.

Bisakah wisatawan umum menyaksikan prosesi malam Ela-Ela?

Wisatawan dapat menyaksikan suasana nyala obor dari tepi jalan umum atau pelataran perkampungan dengan tetap menjaga sopan santun, tidak mengganggu kekhusyukan doa, dan menghormati ketertiban warga setempat.

Leave a Comment