Surabaya memiliki alasan kuat menyandang gelar sebagai Kota Pahlawan. Di setiap sudut jalan dan dinding tuanya, tersimpan memori heroisme yang membentuk fondasi kemerdekaan Republik Indonesia. Salah satu tonggak sejarah yang paling membakar semangat perlawanan rakyat terjadi di tiang bendera Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit), Jalan Tunjungan Nomor 65, pada 19 September 1945.
Peristiwa perobekan kain biru pada bendera Belanda tersebut bukan sekadar cerita di lembar buku sejarah. Pemerintah Kota Surabaya bersama masyarakat menghidupkan kembali memori kolektif itu melalui pementasan drama teatrikal di depan bangunan kolonial Hotel Majapahit.
Bagi pencinta sejarah, agenda tahunan ini menyajikan kesempatan berharga untuk menyaksikan reka ulang keberanian warga tempo dulu langsung di tempat asalnya.

Kilas Balik 19 September 1945: Pemantik Amarah di Jalan Tunjungan
Indonesia sesungguhnya sudah merdeka selama 35 hari saat insiden itu meletus. Menindaklanjuti Maklumat Pemerintah tertanggal 1 September 1945, bendera Merah Putih diinstruksikan untuk terus berkibar di seluruh penjuru tanah air.
Di Surabaya, Hotel Yamato menjadi pusat berkumpulnya warga Belanda dan interniran. Ketegangan memuncak ketika kelompok yang dipimpin W.V.C. Ploegman mengibarkan bendera triwarna (merah, putih, dan biru) di tiang sisi utara lantai atas hotel tanpa persetujuan pemerintah daerah setempat. Tindakan ini memicu kemarahan pemuda Surabaya.
Kabar pengibaran bendera tersebut segera mengumpulkan arek-arek Suroboyo ke depan hotel. Perundingan di dalam lobi berakhir buntu hingga terjadi kericuhan fisik yang menewaskan Ploegman. Beberapa pemuda nekat memanjat ke atap hotel, sementara tokoh pemuda seperti Sidik gugur dalam pertempuran mempertahankan kehormatan kota.
Di atas atap, bendera triwarna berhasil diturunkan, bagian birunya dirobek, lalu Merah Putih dikibarkan kembali ke puncak tiang diiringi pekik merdeka. Peristiwa di Hotel Yamato bukanlah upacara resmi, melainkan letupan amarah spontan yang beberapa pekan kemudian meledak menjadi pertempuran akbar 10 November 1945.
Gedung hotel bersejarah itu kini tetap berdiri kokoh sebagai Hotel Majapahit. Tiang benderanya masih menghadap langsung ke Jalan Tunjungan, dan ruangan yang menjadi saksi bisu perundingan masa itu dikenal dengan sebutan Kamar Merdeka.
Tradisi Refleksi yang Dirawat Setiap September
Pemerintah Kota Surabaya menggelar teatrikal refleksi perobekan bendera hampir setiap tahun sejak sekitar 2009 sebagai pembuka jalan menuju peringatan Hari Pahlawan.
Pementasan ini jauh dari kesan seremonial tertutup. Jalan Tunjungan dijadikan panggung terbuka yang melibatkan ratusan pemeran dari kalangan pelajar, komunitas teater jalanan, legiun veteran, hingga pejabat daerah. Pada beberapa perhelatan, Wali Kota Surabaya bahkan ikut ambil bagian, seperti memerankan sosok Residen Soedirman.
Tajuk lakon dan waktu penyelenggaraan juga menyesuaikan tema tahun berjalan. Pada 2024, judul yang beredar dalam dokumentasi kegiatan adalah Berkibarlah Benderaku. Pelaksanaannya pun tidak selalu kaku harus jatuh tepat di tanggal 19 September. Pada 2025, acara digelar pada 21 September (mengambil hari Minggu terdekat) dengan lakon Surabaya Merah Putih.
Untuk tahun 2026, tanggal 19 September memang telah tercantum dalam kalender acara pariwisata. Namun, terkait kepastian jam mulai, lakon yang dimainkan, serta rekayasa lalu lintas, kamu disarankan untuk selalu memeriksa pengumuman resmi Disbudporapar atau akun resmi Pemkot Surabaya sekitar satu minggu sebelum agenda berlangsung. Beberapa edisi terakhir biasanya digelar pada pagi hari agar Jalan Tunjungan bisa ditutup sementara tanpa mengganggu ritme lalu lintas kota hingga siang hari.

Panduan Datang dan Menikmati Suasana Jalan Tunjungan
Menyaksikan teatrikal di koridor jalan kota menuntut persiapan yang santai dan pengertian terhadap ruang publik:
- Pola Jam Datang Lapangan: Pada edisi-edisi sebelumnya, penonton dan warga sudah mulai merapat ke trotoar sejak pukul 06.00 WIB, sedangkan pementasan sering kali baru dimulai sekitar pukul 08.00 WIB. Datang lebih awal memberi kesempatan mencari sudut pandang yang nyaman.
- Berdiri di Seberang Jalan: Jika trotoar tepat di depan hotel sudah terisi rapat, menyeberanglah ke sisi timur Jalan Tunjungan. Sudut pandang ke arah tiang bendera lantai atas hotel justru terlihat lebih luas dari seberang jalan.
- Hormati Barisan Depan Veteran: Kursi terdepan biasanya dialokasikan khusus untuk para pejuang sepuh dan tamu kehormatan. Berikan ruang yang leluasa dan hindari menghalangi pandangan mereka demi merekam video gawai.
- Patuhi Batasan Area Hotel: Hotel Majapahit adalah cagar budaya yang tetap beroperasi melayani tamu menginap. Jangan memanjat pagar atau memasuki area lobi hotel tanpa izin pengelola.
- Nikmati Dinamika Kota Selepas Acara: Begitu pementasan usai, Jalan Tunjungan perlahan kembali ke denyut aslinya. Kamu bisa berjalan kaki menyusuri trotoar, melihat fasad pertokoan lawas, atau singgah di kedai kopi sekitar tanpa perlu terburu-buru berpindah ke destinasi lain.
Rangkaian Rute Perjalanan Bersama Indonesia Holiday
Perhelatan teatrikal perobekan bendera di Jalan Tunjungan ini adalah milik publik, dipentaskan di jalan terbuka, dan dapat disaksikan oleh siapa saja secara gratis tanpa perlu tiket masuk.
Kamu tidak memerlukan paket khusus untuk sekadar menonton acara ini dari trotoar. Menikmati satu malam di Surabaya dengan agenda pagi di Jalan Tunjungan sudah cukup menjadi jeda sejarah yang berkesan.
Jika setelah menyaksikan teatrikal kamu berencana melanjutkan perjalanan wisata ke wilayah Jawa Timur lainnya, seperti menjelajahi kesejukan Kota Batu, wisata budaya di Malang Raya, atau menikmati matahari terbit di Gunung Bromo, kamu bisa memanfaatkan layanan paket wisata dan program open trip yang dikelola oleh Indonesia Holiday.
Pastikan untuk selalu memeriksa ketersediaan rute yang aktif langsung di situs resmi Indonesia Holiday dan lakukan pembayaran hanya untuk produk perjalanan yang secara resmi tertera di katalog.
FAQ Seputar Teatrikal Perobekan Bendera Surabaya
Apakah masyarakat umum dipungut biaya tiket untuk menonton acara ini?
Tidak. Teatrikal di Jalan Tunjungan merupakan agenda publik terbuka yang diselenggarakan oleh pemerintah kota dan dapat disaksikan gratis oleh seluruh warga di sepanjang trotoar jalan.
Jam berapa acara pementasan biasanya dimulai?
Pada edisi-edisi sebelumnya, penonton mulai berkumpul sejak pukul 06.00 WIB dan pementasan drama teatrikal biasanya dimulai sekitar pukul 08.00 WIB. Pastikan memeriksa kembali siaran informasi resmi dari Pemkot Surabaya menjelang hari kegiatan.
Apakah ruas Jalan Tunjungan ditutup untuk kendaraan bermotor?
Ya, Dinas Perhubungan dan kepolisian setempat biasanya memberlakukan rekayasa penutupan jalan dan pengalihan rute di sepanjang Jalan Tunjungan sejak pukul 06.00 WIB hingga acara selesai sekitar pukul 09.00 atau 10.00 WIB.
Apakah tanggal pelaksanaan teatrikal selalu persis tanggal 19 September?
Tidak selalu. Jadwal pementasan dapat disesuaikan dengan hari libur atau akhir pekan terdekat, seperti pada edisi 2025 yang diselenggarakan pada 21 September. Selalu pantau jadwal terbitan Disbudporapar Kota Surabaya untuk memastikan tanggal pastinya.





